<Mazipan />

Cover Dari Nuxt ke SvelteKit

Dari Nuxt ke SvelteKit

Artikel ini adalah pengalaman probadi dari proses penulisan ulang projek lama dari Nuxt ke SvelteKit.

Tentang aplikasi web Baca-Quran

Baca-Quran.id adalah aplikasi web untuk membaca Quran tanpa perlu khawatir akan ketemu iklan ataupun analitik yang tidak relevan karena memang sama sekali tidak memasang analitik apapun sampai saat ini.

Masalah klasik dengan kode tua

Baca-Quran.id, seperti bisa dilihat langsung dari kode sumbernya di GitHub repo mazipan/baca-quran.id memang telah lama terbengkalai dan tidak sempat saya sentuh-sentuh kodenya. Padahal salah satu tujuan projek ini dulu adalah biar bisa menjadi portofolio yang cukup oke buat saya pribadi, namun dengan kode yang tidak terurus dan kode yang terbuka dan bisa dilihat oleh siapapun maka ini mulai bisa menjadi boomerang buat saya karena menampilkan projek yang saya mulai tidak bisa berinteraksi lagi dengannya. Kode versi lama ini sendiri masih saya simpan di branch v1

Beberapa masalah dengan kode Nuxt.js pada projek Baca-Quran, antara lain:

πŸ”Έ Versi dependency

Versi dependency ini kelihatannya sederhana tapi jadi masalah utama yang rumit dan menimbulkan kemalasan bagi saya untuk memperbaiki secara β€œbaik-baik”. Beberapa merupakan dependency vital yang susah dibenahi, mulai dari Node.js yang masih menggunakan versi 12 (saat artikel ini dipublikasikan, versi LTS sudah sampai ke versi 20), Vue dan Nuxt yang pada akhirnya juga merilis versi major setelah sekian lama development, build tool yang masih menggunakan Webpack versi 4 yang memberikan efek domino jadi banyak loader-loader webpack yang deprecated, sass-loader yang masih pakai node-sass yang sudah tidak dianjurkan.

Sebelum memutuskan untuk menulis ulang, saya sebenarnya sudah mencoba memperbaiki dengan jalan upgrade sedikit-sedikit beberapa dependency. Tapi ternyata terlalu rumit buat saya saat itu.

Pemilihan untuk menulis ulang akhirnya saya ambil mengingat projek ini juga bukan projek di kerjaan, keputusan menulis ulang tidak akan punya banyak resiko serius.

πŸ”Έ Pendekatan saya yang berubah

Pendekatan saya dalam membuat projek berubah seiring waktu, ini bisa jadi terpengaruhi dengan exposure saya terhadap Vue dan Nuxt yang beberapa tahun belakangan sudah sangat rendah, saya sudah tidak antusias dan sudah jadi salah satu pilihan terakhir kalau diminta bikin projek baru. Ini tentu cuma gerbangnya saja, pendekatan lainpun pada akhirnya lambat laun berubah. Dari mulai kebiasaan pakai Webpack yang mulai berpindah ke Vite dan Rollup. Styling CSS yang mulai malas pakai pre-processor lagi dan mulai mengandalkan Tailwind CSS saja di banyak projek baru.

πŸ”Έ Workaround yang dipaksakan

Sebagai projek portofolio, saya memang ingin membuat kodenya sebaik yang saya bisa pada masanya. Namun pada akhirnya malah membawa saya ke beberapa workaround yang menyulitkan untuk diperbaiki setelah lama ditinggal. Workaround memang tujuannya biasanya untuk menambal celah sesaat, namun setelah lama dan mulai lupa, baru berasa betapa terlalu dipaksakannya dulu mengadopsi workaround di bagian-bagian kritis.

Satu terbesar yang menyulitkan saya adalah adopsi TypeScript, pada masanya memang baik dari Vue maupun Nuxt belum ada solusi yang mumpuni. Akhirnya demi mendukung ego, menambal sulam dengan berbagai rekomendasi baik ofisial ataupun 3rd party. Terlalu banyak 3rd party yang akhirnya jadi dependensi untuk projek ini, mulai vue-class-component, vue-property-decorator dan nuxt-property-decorator, vuex-class. Selengkapnya baca di artikel: Migrasi Nuxt ke TypeScript

Cara yang saya ambil untuk mengadopsi TypeScript termasuk bukan yang begitu disarankan, karena beberapa bulan setelahnya muncul typescript.nuxtjs.org yang mana lebih disarankan untuk adopsi TypeScript di Nuxt.js. Saya juga memutuskan menggunakan Class API dibandingkan Options API seperti biasanya, yang makin menyulitkan karena kita tau sekarang Vue menyarankan Composition API.

Perbedaan v1 dan v2

Secara garis besar, sebenernya tidak ada perubahan signifikan pada fitur. Tapi karena ini adalah aplikasi yang saya tulis ulang dari awal tanpa begitu mempertimbangkan harus semuanya ada, maka memang sedari awal saya sudah berekspektasi kalau v2 ini mungkin tidak akan se-β€œkaya” versi sebelumnya. Ada fitur-fitur yang secara sadar akan saya mutilasi, paling tidak pada tahap awal pengembangan dan perilisan awal.

Cuplikan beranda Baca-Quran v1
Cuplikan beranda Baca-Quran v1

Cuplikan beranda Baca-Quran v2
Cuplikan beranda Baca-Quran v2

Beberapa fitur yang lumayan sayang karena mesti hilang antara lain:

  • πŸ”΄ Tema yang terbatas, sekarang cuma mendukung tema terang dan gelap
  • πŸ”΄ Halaman AMP, sebenarnya tidak begitu kehilangan, karena memang dari Google sendiri sudah tidak memberikan perlakuan terlalu spesial. Tapi mengingat betapa susahnya dulu membuat fitur AMP ini, jadi cukup kehilangan.
  • πŸ”΄ Perubahan slug surah dan ayat, ini jelas big loss karena akan kehilangan banyak dari sisi organik di mesin pencarian.

Tapi tenang, selian fitur yang dimutilasi di atas, saya juga menyiapkan beberapa fitur baru yang memang sudah kebayang ingin dibuat sejak lama:

  • 🟒 Audio yang makin banyak pilihannya, menggunakan EveryAyah
  • 🟒 Fitur tasbih, pengingat hitungan saat Dzikir atau Wirid
  • 🟒 Bisa menandai lebih dari 1 ayat sebagai terakhir dibaca
  • 🟒 Bisa berbagi ayat dalam tulisan arabic maupun berbagi terjemahannya saja ke sosial media ataupun Twitter bila tidak mendukung

Dan pastinya, β€œharusnya” bisa berekspektasi kalau akan ada beberapa fitur lainnya yang bisa dikirim setelah ini. Beberapa diantaranya bisa dijumpai di isu nomor #234

Saya x Svelte dan SvelteKit

Salah satu paparan pertama saya dengan kode Svelte secara profesional mungkin saat masih bekerja di tkpd, mereka punya 1 service yang menyajikan halaman beranda untuk device mobile dan untuk pengunjung baru yang sebelumnya belum pernah mengunjungi halaman tersebut. Sayangnya ya karena cuma menyajikan satu halaman, memang tidak banyak fitur yang dikembangkan apalagi makin ke sini dirasa makin sulit mengurusi 1 halaman dalam 2 versi. Svelte di sana belum menggunakan SvelteKit, tapi setidaknya jadi melihat projek nyata yang dibuat pakai Svelte.

Setelahnya di sbox juga ada 1 internal dashboard yang dibuat pake Svelte, belum pakai SvelteKit juga sayangnya.

Di luar kerjaan harian, saya beberapa kali berkesempatan mengerjakan projek kecil menggunakan Svelte yang juga didukung dengan SvelteKit, diantaranya:

Pilihan ini memang disengaja, karena projek-projek ini adalah salah satu playground saya, jadi saya lebih memilih menggunakan framework yang saya ingin pelajari tapi gak berkesempatan di kerjaan sehari-hari.

Kesan pribadi

Secara garis besar saya puas dengan apa yang diberikan SvelteKit. Namun ada beberapa hal negatif yang memang masih jadi perhatian saya, diantaranya:

  • πŸ”΄ Konvensi memberikan nama berkas dengan awalan karakter + ini buat saya adalah mimpi buruk, saya pernah menghabiskan berhari-hari debug kenapa halaman saya tidak terekspor jadi file statis padahal sudah membubuhkan entries, yang ternyata cuma gara-gara salah memberikan nama berkas.
  • πŸ”΄ Pendekatan membuat Sitemap di dokumentasi offisial yang menurut saya agak gak cocok untuk kasus halaman statis
  • πŸ”΄ svelte:head yang masih suka duplikat kalau router-nya dipindah lewat SPA, jadi suka punya meta tag yang duplikat.
  • πŸ”΄ Cara memasang structured data yang belum stabil, walhasil harus pakai workaround untuk memasang json-ld
  • πŸ”΄ Jadi kangen Portal di React, di Svelte saya jadi nempelin komponennya di global dan trigger lewat store, biar DOM nya gak perlu nempel ke komponen terdekatnya.

Tapi sudahlah ya πŸ₯Ή, emang biar bisa tetep sambat aja kali ya πŸ”₯. Setidaknya saya tetap bisa menikmati SvelteKit, antara lain:

  • 🟒 Developer Experience (DX) nya top tier, reload pas bikin perubahan super kenceng karena di belakang layar pakai Vite. Config-nya sangat minimalis, gampang buat di utak-atik kalau butuh yang rada aneh-aneh. Build-nya kenceng banget, harus ekspor ribuan halaman jadi file statis tapi bisa selesai kurang dari 30 detik. Bootstrap projek baru bisa langsung wus-wus, sudah di siapin berbagai kebutuhan dasar macam TS, ESLint, Prettier, dkk.
  • 🟒 Jadi less-dependency, ini bias tentu saja, karena fiturnya juga dipangkas jadi kebutuhan akan pustaka tambahan juga jadi lebih sedikit. Svelte juga sudah punya global store bawaan yang bisa jadi solusi untuk state manajemen yang reaktif dan langsung terintegrasi dengan sistem reaktivitas di Svelte.

Hal lain yang dipelajari

Selain melakukan migrasi framework, pada prosesnya saya juga mempelajari beberapa hal menarik dari proses migrasi kali ini, diantaranya:

  • πŸŽ‰ Jadi tau kalau ada yang namanya Vibration API, ini saya pakai di halaman /tasbih untuk memberikan efek getar saat telah mencapai target yang ditentukan.
  • πŸŽ‰ Ekspor sebagai file statis dengan melempar entries, biar gak perlu bergantung pada kemampuan crawl si build tools-nya.
  • πŸŽ‰ Belajar bikin Drawer dan BottomSheet alakadarnya pakai Tailwind CSS, sumbernya dari kode di tailwindcomponents.com
  • πŸŽ‰ Belajar bikin Toaster pakai Tailwind CSS, sumbernya dari toaster di flowbite.com

Demikian tulisannya, maaf-maaf kalau tidak ada yang bisa diambil pelajaran πŸ™πŸ˜‚


Foto cover diambil dari Pixabay di Pexels

🌟 Thank you for reading
Loading comments...

πŸ”— RELATED POSTS