Surat Untuk Diriku di Masa Depan — Bertahan Setelah Layoff
Sebuah surat panjang untuk diriku sendiri di masa depan yang kemungkinan besar akan menghadapi layoff lagi — dari seseorang yang sudah pernah melewatinya dua kali dan tahu betapa beratnya itu
· career ·16 min read
Hai, Irfan.
Kamu sedang membaca ini mungkin karena kamu baru saja kehilangan pekerjaanmu. Atau mungkin kamu sedang was-was, merasakan angin tak sedap yang bertiup dari arah HRD dan manajemen, firasat yang sudah lama menggelayut di dadamu tapi kamu masih berharap salah. Atau mungkin kamu sedang mencari penguat hati karena angka di rekening tabunganmu sudah mulai membuat tidak nyaman.
Apapun alasanmu membaca ini, aku ingin kamu tahu satu hal dulu sebelum kita mulai: kamu akan baik-baik saja.
Bukan karena situasinya mudah. Tidak, tidak mudah. Aku tahu itu. Aku sudah merasakan sendiri bagaimana rasanya dua kali, dan dua-duanya tidak ada yang terasa “lebih ringan” dari yang lain. Tapi karena aku sudah pernah di posisi itu dan berhasil keluar dari sana — aku ingin menulis surat ini sebagai pengingat untukmu ketika kamu butuh pegangan.
Jadi bacalah pelan-pelan. Tidak perlu terburu-buru. Kamu sudah punya cukup tekanan hari ini.
Tentang Hari-Hari Pertama Itu
Hari pertama setelah layoff itu aneh. Kamu bangun pagi — mungkin karena alarm, mungkin karena sudah terbiasa — lalu tiba-tiba tersadar bahwa tidak ada tempat yang harus kamu tuju. Tidak ada laptop yang menunggu untuk dibuka. Tidak ada standup pagi yang harus kamu hadiri. Tidak ada tiket Jira yang menunggumu.
Keheningan itu terasa berat sekali.
Aku ingat bagaimana perasaan itu. Ada semacam rasa hampa yang aneh — bukan lega, bukan sedih yang bisa langsung kamu tangisi, tapi sesuatu di antaranya yang susah dijelaskan. Seperti kehilangan rutinitas yang ternyata, tanpa kamu sadari, sudah menjadi bagian besar dari identitasmu.
Dan percayalah, itu normal.
Kamu boleh merasa tidak baik. Kamu boleh marah. Kamu boleh sedih. Kamu boleh bingung. Kamu bahkan boleh merasa lega — dan kemudian merasa bersalah karena merasa lega. Semua emosi itu valid. Semua itu nyata. Jangan paksa dirimu untuk berpura-pura baik-baik saja hanya karena ada orang yang bilang “ini bukan akhir dunia.”
Memang bukan akhir dunia. Tapi tetap boleh terasa menyakitkan.
Jangan Biarkan Pikiranmu Mengkhianatimu di Minggu Pertama
Ini yang paling berbahaya: pikiran di minggu-minggu pertama itu licik. Dia akan memperlihatkan versi terburuk dari segala kemungkinan. Dia akan memutar ulang semua kesalahanmu di pekerjaan yang lalu. Dia akan membandingkan dirimu dengan teman-temanmu yang masih punya pekerjaan. Dia akan membuat kamu mempertanyakan kompetensimu sendiri.
“Mungkin memang aku yang tidak cukup bagus.”
“Kenapa dia yang dipertahankan, bukan aku?”
“Apa yang salah dariku?”
Irfan, dengarkan aku: layoff bukan tentang kamu. Atau paling tidak, hampir selalu tidak murni tentang kamu. Ini tentang spreadsheet keuangan perusahaan, tentang pivot bisnis, tentang investor yang tiba-tiba menarik kaki, tentang strategi yang berubah di level yang jauh di atasmu. Kamu bisa jadi engineer yang paling produktif di timmu dan tetap kena layoff karena divisimu dianggap tidak sejalan dengan arah bisnis baru.
Itu tidak adil. Aku tahu. Tapi begitulah cara kerjanya.
Jangan biarkan pikiranmu mengubah ketidakadilan struktural itu menjadi verdict tentang nilai dirimu sebagai seorang manusia dan profesional.
Soal Rasa Malu yang Tidak Perlu Kamu Tanggung Sendiri
Ini bagian yang susah untuk diakui, tapi aku perlu bicara jujur tentang ini: ada rasa malu yang datang bersamaan dengan layoff, dan rasa malu itu bisa jauh lebih menghancurkan dari kehilangan pekerjaannya sendiri.
Malu untuk cerita ke orang tua. Malu untuk update LinkedIn. Malu ketika ditanya teman lama, “Sekarang kerja di mana?” Malu untuk mengakui bahwa bulan ini keuangan keluarga akan lebih ketat dari biasanya.
Aku tahu kamu besar dengan nilai bahwa laki-laki harus bisa menafkahi keluarga, bahwa harga diri itu ada kaitannya dengan seberapa baik kamu bisa menghidupi orang-orang yang kamu sayangi. Nilai itu bukan sesuatu yang buruk — tapi dalam konteks ini, dia bisa jadi beban yang tidak perlu.
Istrimu tahu siapa kamu. Dia tidak menikahimu karena jabatanmu. Anak-anakmu tidak peduli kamu kerja di perusahaan besar atau tidak — mereka hanya mau kamu ada, mau diajak main, mau mendengarkan cerita mereka.
Ceritakan yang sesungguhnya kepada orang-orang terdekatmu. Jangan menanggung ini sendirian diam-diam. Tidak ada gunanya. Yang ada malah kamu jadi tambah lelah karena harus menjaga fasad di rumah juga.
Hal Praktis yang Harus Kamu Urus Secepatnya (Tapi Tidak Perlu Panik)
Oke, mari bicara soal hal-hal yang memang perlu segera diurus. Tapi tolong, jangan jadikan ini sebagai sesuatu yang membuatmu panik. Ini hanya daftar kecil yang membantu situasimu tetap terkontrol.
Hitung runway-mu. Berapa bulan kamu bisa bertahan dengan tabungan yang ada plus pesangon? Angka ini penting bukan untuk menakutimu, tapi untuk memberikanmu gambaran yang realistis tentang seberapa banyak waktu yang sebenarnya kamu punya. Seringkali ternyata lebih panjang dari yang kamu kira di kepala.
Kurangi pengeluaran yang tidak darurat. Bukan berarti kamu harus hidup menderita, tapi memang ada baiknya melakukan review: langganan apa saja yang bisa ditunda? Makan di luar berapa kali seminggu yang sebetulnya bisa dipangkas tanpa harus tersiksa?
Urus dokumen dengan tenang. BPJS ketenagakerjaan — klaim itu, jangan malu. Itu memang hakmu. Referensi dari mantan atasan — minta sekarang selagi masih segar. Dokumen-dokumen penting lainnya — pastikan semua ada di tanganmu.
Jangan langsung accept tawaran pekerjaan pertama yang datang. Ini yang paling sering jadi jebakan. Panik karena tidak punya pekerjaan, lalu menerima tawaran yang tidak cocok hanya karena takut kelamaan nganggur. Nanti kamu akan menyesal dan harus mulai dari nol lagi dalam waktu dekat.
Tentang Waktu Luang yang Tiba-Tiba Kamu Punya
Ada sesuatu yang ironis dari layoff: kamu akhirnya punya waktu yang selama ini tidak pernah kamu miliki, tapi kamu tidak dalam kondisi mental yang baik untuk menikmatinya.
Kamu mungkin akan menghabiskan hari-hari pertama scrolling job board tanpa henti. Membuka LinkedIn setiap lima belas menit. Merefresh email menunggu balasan dari perekrut. Itu wajar di awal, tapi jangan biarkan itu menjadi caramu menghabiskan waktu satu bulan penuh.
Di antara sesi mencari kerja itu, izinkan dirimu beristirahat sungguhan. Bukan istirahat sambil mikir pekerjaan, tapi istirahat beneran.
Kamu ingat proyek-proyek kecil yang selama ini ingin kamu kerjakan tapi selalu terhenti karena “tidak ada waktu”? Ini mungkin waktunya. Bukan karena kamu harus produktif — karena kamu memang butuh sesuatu yang memberikan rasa pencapaian kecil di tengah periode yang tidak pasti ini.
Pergi jalan-jalan. Sendirian kalau perlu. Bawa headphone, pilih playlist yang kamu suka, jalan tanpa tujuan. Biarkan otakmu bernapas.
Tidur cukup. Ini bukan saran remeh. Otak yang kelelahan akan membuat semua keputusan terasa lebih berat, semua penolakan terasa lebih menyakitkan, semua wawancara terasa lebih menakutkan.
Proses Mencari Kerja Itu Memang Brutal, dan Itu Bukan Salahmu
Aku perlu mempersiapkanmu untuk ini: proses mencari kerja setelah layoff bisa sangat menguras mental. Bukan karena kamu tidak cukup bagus. Tapi karena sistemnya memang tidak dirancang untuk ramah kepada pencari kerja.
Kamu akan mengirim puluhan aplikasi dan menerima balasan dari sebagian kecil saja. Kamu akan lolos beberapa tahap interview lalu tiba-tiba tidak mendapat kabar. Kamu akan mendapat tawaran yang jauh di bawah ekspektasi. Kamu akan bertemu rekruter yang “sangat antusias” lalu tiba-tiba menghilang.
Setiap penolakan itu akan terasa lebih berat dari biasanya karena kamu sudah dalam kondisi rentan.
Beberapa hal yang membantu dari pengalaman sebelumnya:
Jangan jadikan setiap interview sebagai taruhan hidup dan mati. Masuk ke setiap interview dengan sikap ingin tahu — ini kesempatan untuk belajar tentang perusahaan itu, bukan hanya kesempatan untuk membuktikan dirimu. Ironisnya, sikap ini justru membuat kamu lebih tenang dan perform lebih baik.
Buat catatannya. Setelah setiap interview, catat apa yang ditanyakan, bagaimana kamu menjawab, apa yang bisa kamu perbaiki. Ini bukan untuk menyiksa diri, tapi untuk belajar dari setiap kesempatan yang ada.
Cerita ke teman-teman, jangan cari kerja sendirian. Jaringan pertemananmu lebih berharga dari yang kamu kira. Pekerjaan yang didapat dari referensi teman biasanya prosesnya lebih manusiawi dan fitting-nya lebih baik.
Istirahat dari mencari kerja. Serius. Pilih satu atau dua hari dalam seminggu untuk tidak membuka job board sama sekali. Otak kamu butuh jeda dari mode “survival”.
Lupakan Gengsi — Kamu Tidak Sedang di Posisi yang Sama Seperti Dulu
Ada satu hal yang perlu kamu sadari dengan jernih: mencari kerja setelah layoff itu berbeda dari mencari kerja ketika kamu masih punya pekerjaan.
Dulu, kamu bisa santai. Kamu menunggu ada yang menarik perhatianmu, membiarkan rekruter yang duluan menghubungi, punya waktu untuk menimbang-nimbang tawaran dengan tenang. Bahkan tidak jarang kamu sudah punya tawaran baru sebelum sempat resign dari yang lama. Posisimu kuat — kamu yang memilih, bukan dipilih.
Sekarang situasinya terbalik. Kamu sudah tidak punya pekerjaan. Pasar kerja yang kamu masuki mungkin jauh lebih ketat dari terakhir kali kamu mencari. Dan di atas semua itu, ada stigma yang tidak akan pernah terang-terangan diucapkan oleh para rekruter tapi nyata adanya: “Kenapa dia sampai kena layoff? Apa yang kurang darinya?” — meski layoff-mu murni karena keputusan bisnis yang tidak ada hubungannya dengan performamu.
Kamu perlu menerima kenyataan ini bukan untuk membuatmu makin tertekan, tapi supaya kamu bisa merespons situasi ini dengan cara yang tepat, bukan dengan cara yang kamu pakai di kondisi yang sudah berlalu.
Artinya: ada beberapa hal yang mungkin terasa tidak nyaman, terasa di bawah standarmu, terasa seperti mundur — tapi justru itulah yang perlu kamu lakukan sekarang.
Tampil lebih banyak, meski terasa cringe. Kamu mungkin tipe yang malas posting di LinkedIn, merasa tulisan-tulisan self-promotion itu berlebihan dan tidak perlu. Tapi orang tidak bisa merekomendasikanmu kalau mereka tidak tahu bahwa kamu sedang mencari. Tulislah. Bagikan apa yang kamu kerjakan, apa yang kamu pelajari, apa yang kamu cari. Tidak perlu terasa sempurna. Tidak perlu viral. Cukup terlihat — oleh orang yang kebetulan sedang membutuhkan seseorang sepertimu, atau oleh orang yang kebetulan kenal seseorang yang membutuhkanmu.
Lamar posisi yang tidak seratus persen ideal. Tanggung jawab lebih banyak dari yang kamu inginkan, lokasi yang lebih jauh, gaji yang sedikit di bawah ekspektasi, industri yang bukan favoritmu — semua itu bukan berarti kamu menyerah pada standarmu. Itu artinya kamu realistis dengan situasi. Sebuah pekerjaan yang “cukup baik” sambil terus mencari yang lebih cocok jauh lebih baik daripada menunggu yang sempurna sampai runway-mu habis.
Hubungi orang yang sudah lama tidak kamu sapa. Ini yang paling sering bikin canggung — tiba-tiba menghubungi teman lama yang sudah bertahun-tahun tidak ada kabar, dan rasanya seperti memanfaatkan hubungan yang terbengkalai. Tapi pikirkanlah dari sisi sebaliknya: kalau posisi mereka yang terbalik, apakah kamu tidak mau mereka menghubungimu? Hampir pasti tidak ada orang yang tersinggung dihubungi temannya yang sedang butuh bantuan. Hubungi mereka. Ceritakan situasimu dengan jujur. Tanyakan apakah ada peluang di tempat mereka atau apakah mereka bisa merekomendasikanmu ke orang lain.
Minta rekomendasi secara aktif. Jangan tunggu orang menawarkan. Tanyakan langsung kepada mantan atasan, mantan rekan kerja senior, siapapun yang pernah melihat kerjamu dari dekat — apakah mereka bersedia menjadi referensi, atau menulis sepatah dua patah kata untukmu di LinkedIn. Kebanyakan orang bersedia, mereka hanya tidak terpikirkan untuk menawarkan kalau tidak diminta.
Berkenalan dengan orang baru. Hadiri meetup komunitas, ikut diskusi online, balas komentar di thread yang relevan. Bukan dengan agenda tersembunyi, tapi dengan niat tulus untuk terhubung. Kamu tidak pernah tahu siapa yang ternyata sedang membuka lowongan, atau siapa yang kenal seseorang yang sedang membuka lowongan.
Semua ini mungkin terasa seperti kerja keras yang tidak kamu perlukan dulu. Memang begitu. Tapi “dulu” sudah berlalu. Yang ada hanyalah sekarang, dan sekarang kamu perlu berjuang dengan cara yang berbeda. Tidak ada yang memalukan dari itu.
Tentang Identitasmu Sebagai Seorang Engineer
Ini yang paling susah untuk kamu terima, Irfan, karena aku tahu betapa besar bagian dari identitasmu yang terkait dengan pekerjaanmu.
Kamu ingat dari mana kamu berasal — anak kampung, buruh pabrik, kasir supermarket, yang kemudian berjuang keras untuk bisa duduk di meja sebagai seorang Software Engineer. Perjalanan itu tidak mudah dan butuh pengorbanan yang tidak kecil. Wajar kalau pekerjaanmu akhirnya menjadi sesuatu yang sangat erat dengan rasa harga dirimu.
Tapi coba tanyakan kepada dirimu sendiri: apakah kamu seorang engineer hanya karena ada perusahaan yang membayarmu sebagai engineer?
Pengetahuan yang kamu punya tidak hilang ketika kontrakmu diputus. Kemampuanmu untuk memecahkan masalah tidak lenyap bersama akses laptopmu. Reputasi yang kamu bangun selama bertahun-tahun tidak terhapus dari kepala orang-orang yang pernah bekerja bersamamu.
Layoff mengakhiri hubungan kerjamu dengan satu perusahaan. Bukan karir-mu. Bukan kemampuanmu. Bukan nilaimu sebagai manusia.
Bedakan itu baik-baik.
Percakapan yang Perlu Kamu Lakukan (Dan Mungkin Selalu Kamu Tunda)
Aku tahu kamu cenderung memendam sendiri hal-hal yang berat. Itu cara yang sudah lama kamu gunakan untuk bertahan — tidak mau membebani orang lain, ingin terlihat kuat, ingin menyelesaikan masalahmu sendiri.
Tapi ada batas dari pendekatan itu, dan layoff adalah salah satu momen di mana batas itu perlu kamu akui.
Bicara dengan istrimu — bukan hanya soal keuangan, tapi soal bagaimana perasaanmu sesungguhnya. Dia pasanganmu. Dia berhak tahu. Dan kemungkinan besar, dia lebih siap menghadapi ini bersama-sama daripada yang kamu kira.
Bicara dengan teman-teman terdekatmu yang sudah lama kamu kenal — bukan untuk mencari solusi, kadang hanya untuk didengarkan. Kamu punya teman-teman yang peduli padamu, yang sudah menemanimu melewati banyak fase hidupmu. Jangan jauhkan mereka di momen seperti ini.
Kalau perlu dan kamu mampu, bicara dengan profesional. Tidak ada yang memalukan dari mencari bantuan psikolog atau konselor. Ketidakpastian yang berkepanjangan itu menguras secara mental, dan ada orang-orang yang terlatih untuk membantu kamu navigasi perasaan itu dengan lebih sehat.
Tentang Kepedulian Orang Lain — Jujur Saja
Ada hal yang perlu aku sampaikan dengan jujur, supaya kamu tidak kecewa nanti.
Ketika berita layoff-mu tersebar, banyak orang akan menunjukkan kepedulian. Teman-teman kerja lama akan mengirim pesan, menanyakan kabarmu, bilang “kalau butuh apa-apa kabarin ya.” Dan itu tulus — mereka memang peduli, pada saat itu.
Tapi sehari berlalu. Dua hari. Seminggu. Dan perlahan dunia mereka berjalan seperti biasa lagi. Ada deadline yang menunggu, ada meeting yang harus dihadiri, ada masalah mereka sendiri yang harus diselesaikan. Ada dan tiadamu tidak membuat dunia mereka berhenti — dan memang seharusnya tidak.
Ini bukan pengkhianatan. Ini bukan munafik. Ini manusiawi.
Mereka tidak terdampak langsung oleh layoff-mu. Yang terdampak langsung hanyalah orang-orang yang hidupnya benar-benar bersinggungan dengan hidupmu — keluarga intimmu. Mereka yang menunggumu pulang ke rumah. Mereka yang ikut merasakan tekanan keuangan itu. Mereka yang melihat wajahmu setiap pagi dan merasakan kalau ada yang tidak beres. Merekalah yang akan ada di sisimu sampai titik akhir, bukan karena mereka lebih baik hatinya dari orang lain, tapi karena perjalanan ini memang perjalanan mereka juga.
Jadi bersyukurlah — sungguh — kalau ada teman yang masih mengirim pesan di minggu kedua, yang mengajak makan siang meski kamu sudah tidak satu kantor, yang mengingatmu bukan hanya saat berita layoff itu segar. Itu langka dan berharga. Tapi jangan jadikan ekspektasi. Dan jangan biarkan dirimu merasa ditinggalkan ketika pesan-pesan itu berhenti datang, karena itu memang wajar terjadi.
Simpan energimu untuk orang-orang yang memang ada — keluargamu — bukan untuk menghitung siapa yang sudah tidak lagi mengirim pesan.
Hal-Hal yang Harus Kamu Jaga Baik-Baik
Ada beberapa hal yang gampang rusak atau hilang di periode seperti ini kalau tidak kamu jaga:
Kesehatanmu. Stress itu nyata efeknya ke badan. Tidur yang cukup, makan dengan cukup, dan bergerak — olahraga ringan sekalipun, jalan kaki di pagi hari, apa saja yang membuat tubuhmu tidak diam sepenuhnya. Badan yang sehat membuat pikiran lebih mampu menghadapi tekanan.
Hubunganmu dengan keluarga. Ini periode di mana kamu perlu mereka lebih dari biasanya, tapi juga periode di mana tekanan bisa membuatmu lebih mudah tersulut. Sadari itu, dan jaga agar ketidakpastian kerjamu tidak menghancurkan ketenangan rumahmu.
Rasa percaya dirimu. Ini yang paling mudah tererosi. Setiap penolakan, setiap hari tanpa kabar, setiap kali kamu merasa “tertinggal” dari teman-teman yang masih bekerja — semuanya punya potensi mengikis kepercayaan dirimu kalau tidak kamu waspadai. Remind dirimu sendiri tentang pencapaian-pencapaianmu yang nyata. Baca kembali feedback positif dari rekan kerjamu. Ingat proyek-proyek yang berhasil kamu selesaikan.
Integritasmu. Di tengah tekanan finansial, godaan untuk mengambil jalan pintas bisa datang dalam berbagai bentuk. Tetap pilih jalan yang bisa kamu ceritakan dengan kepala tegak.
Yang Kubilang Tentang Pengalaman Sebelumnya
Kalau kamu membaca ini dan baru pertama kali mengalami layoff — selamat, kamu beruntung bisa membaca surat ini dari seseorang yang sudah melewatinya dua kali sebelumnya. Kalau kamu membaca ini dan ini layoff ketigamu, atau keempat, atau lebih — aku ingin kamu tahu bahwa pola yang berulang itu tidak serta merta berarti ada yang salah darimu.
Industri teknologi itu volatile. Perusahaan-perusahaan startup itu bisa berubah arah dengan cepat. Ekonomi global punya siklusnya sendiri yang sering kali tidak peduli dengan rencana karir seseorang. Orang-orang yang sudah di-layoff berkali-kali tidak otomatis berarti tidak kompeten — bisa jadi mereka hanya secara berulang berada di tempat yang salah pada waktu yang salah.
Dari dua layoff yang sudah aku lalui, ada satu pelajaran yang selalu berulang: setiap babak baru membuka pintu yang tidak mungkin terbuka kalau babak sebelumnya tidak berakhir.
Tidak semua pintu itu langsung terlihat. Tidak semua langsung jelas arahnya. Tapi kalau aku lihat ke belakang sekarang, aku bisa menarik garis dari setiap perpindahan itu ke tempat di mana aku akhirnya berada. Dan garis itu, meski berliku-liku dan kadang terputus, ternyata menuju ke arah yang lebih baik dari yang aku bayangkan di hari-hari tersulit itu.
Kamu tidak akan bisa melihat garis itu dari hari pertama. Tapi dia ada.
Tentang Mengambil Keputusan Besar di Tengah Ketidakpastian
Ada yang perlu aku peringatkan: jangan buat keputusan besar di bulan pertama.
Kamu mungkin tiba-tiba merasa ingin ganti jalur karir sepenuhnya. Atau mulai bisnis sendiri. Atau pindah kota. Atau semua hal besar lainnya yang selama ini kamu tunda.
Ide-ide itu mungkin bagus. Mungkin memang sudah waktunya. Tapi kamu perlu membedakan antara keputusan yang datang dari kejernihan pikiran versus keputusan yang datang dari kepanikan atau pelarian.
Beri dirimu waktu. Biarkan gelombang pertama emosinya agak reda dulu. Lalu tanyakan: apakah aku masih menginginkan ini kalau kondisi keuanganku tidak tertekan? Apakah ini adalah sesuatu yang sudah lama aku pikirkan, atau ini baru muncul sejak layoff kemarin?
Tidak semua perubahan besar harus dilakukan sekarang. Dan tidak semua ketidakpastian harus diisi dengan keputusan besar.
Catatan Kecil Tentang LinkedIn dan Media Sosial
Oh ya, ini perlu dibahas juga karena ini bisa jadi sangat menyakitkan kalau tidak dikelola dengan baik.
LinkedIn di masa seperti ini adalah tempat yang campur aduk. Di satu sisi kamu butuh dia untuk networking dan mencari peluang. Di sisi lain, feed LinkedIn penuh dengan orang yang baru saja dapat promosi, baru saja bergabung dengan perusahaan keren, baru saja meluncurkan produk besar — semua hal yang mungkin membuat kamu merasa makin ketinggalan.
Aturlah konsumsi media sosialmu. Bukan berarti harus off sepenuhnya, tapi sadari kapan kamu scrolling untuk keperluan yang produktif dan kapan kamu sedang menyiksa diri sendiri.
Dan soal kapan harus announce layoff-mu di LinkedIn — itu pilihanmu, tidak ada kewajiban untuk segera mengumumkan. Tapi kalau kamu memilih untuk berbagi, kamu akan sering terkejut betapa banyak orang yang merespons dengan hangat dan menawarkan bantuan. Dunia ternyata tidak sejudgmental yang kamu bayangkan.
Apa yang Membuatmu Kuat Sebelumnya, Masih Ada di Kamu
Irfan, kamu pernah kerja upah harian demi membantu keluarga. Kamu pernah jadi buruh pabrik roti sebelum akhirnya bisa duduk di meja sebagai seorang engineer. Kamu pernah belajar coding dari nol tanpa background yang kuat, di perusahaan pertamamu, sambil takut-takut bertanya ke senior karena merasa paling cupu.
Kamu sudah pernah tidak tau apa-apa dan tetap bertahan.
Kamu sudah pernah merasa tidak cukup bagus dan tetap membuktikan sebaliknya.
Kamu sudah pernah berada di posisi yang jauh lebih berat dari sekadar kehilangan pekerjaan yang “bagus” — dan kamu melewatinya.
Ketangguhan itu bukan hilang karena sebuah surat pemutusan hubungan kerja. Dia masih ada. Mungkin perlu sedikit diingatkan, tapi dia masih ada.
Satu Hal Terakhir
Aku tahu kamu akan baik-baik saja bukan karena situasinya mudah atau karena kamu selalu punya rencana yang sempurna. Aku tahu karena aku sudah pernah di sana dua kali, dan dua-duanya — meski terasa seperti dunia mau runtuh pada saat itu — akhirnya membawaku ke tempat yang lebih baik.
Tidak semuanya akan mulus. Akan ada hari-hari di mana kamu ragu, di mana kepercayaan dirimu hancur, di mana kamu tidak tahu harus melangkah ke mana. Itu bagian dari prosesnya. Itu bukan tanda bahwa kamu sudah kalah.
Tanda bahwa kamu sudah kalah hanya ada satu: kalau kamu berhenti sama sekali.
Dan aku tidak percaya kamu akan melakukan itu.
Jaga dirimu baik-baik. Jaga keluargamu. Percayai prosesnya, meski prosesnya lambat dan melelahkan. Dan kalau suatu hari nanti kamu sudah melewati ini, tuliskan ceritanya — untuk dirimu di masa depan, untuk teman yang sedang butuh dibacakan sesuatu yang jujur, untuk siapa saja yang perlu tahu bahwa bertahan setelah layoff itu mungkin, bahkan bagi orang yang sudah mengalaminya lebih dari sekali.
Dengan sayang dan harapan,
Irfan — yang sudah pernah melewatinya sebelumnya
Ditulis di pagi hari yang tenang, sebagai catatan untuk diri sendiri di masa depan yang tidak ada yang tahu kapan akan datang.
- Tentang Hari-Hari Pertama Itu
- Jangan Biarkan Pikiranmu Mengkhianatimu di Minggu Pertama
- Soal Rasa Malu yang Tidak Perlu Kamu Tanggung Sendiri
- Hal Praktis yang Harus Kamu Urus Secepatnya (Tapi Tidak Perlu Panik)
- Tentang Waktu Luang yang Tiba-Tiba Kamu Punya
- Proses Mencari Kerja Itu Memang Brutal, dan Itu Bukan Salahmu
- Lupakan Gengsi — Kamu Tidak Sedang di Posisi yang Sama Seperti Dulu
- Tentang Identitasmu Sebagai Seorang Engineer
- Percakapan yang Perlu Kamu Lakukan (Dan Mungkin Selalu Kamu Tunda)
- Tentang Kepedulian Orang Lain — Jujur Saja
- Hal-Hal yang Harus Kamu Jaga Baik-Baik
- Yang Kubilang Tentang Pengalaman Sebelumnya
- Tentang Mengambil Keputusan Besar di Tengah Ketidakpastian
- Catatan Kecil Tentang LinkedIn dan Media Sosial
- Apa yang Membuatmu Kuat Sebelumnya, Masih Ada di Kamu
- Satu Hal Terakhir
More posts
-
Lewati CORS dengan proxy API
Solusi sederhana ketika ketemu masalah semua web developer - CORS, dengan menggunakan bantuan tambahan di tengah, yakni proxy API
4 min read -
01 - Cerita anak kampung menjadi programmer
Cerita panjang perjalanan hidup dan karir saya sampai bisa menjadi programmer di beberapa perusahaan teknologi besar di Indonesia
7 min read -
Migrasi Nuxt ke TypeScript
Menceritakan beberapa langkah yang saya kerjakan ketika melakukan migrasi project Nuxt dari menggunakan JavaScript vanilla menjadi menggunakan TypeScript
4 min read